Jumat, 02 Juli 2010

Pagi ini aku terbangun dengan panik....
infusku berdarah...aduh darahnya naik sampai ke selang-selangnya
kubangunkan mama yang tertidur di tempat tidur di sampingku...Aku bisa melihat raut wajah yang sangat kwatir dan panik. Kucoba menenangkannya, ngga pa-pa ko' ma..tolong panggil suster jaga...
Tanpa peduli penampilannya yang kusut karena baru bangun tidur, mama bergegas ke ruang perawat yang tak jauh dari ruanganku
segerombolan perawat-perawat praktekpun datang, ada yang sekedar melihat saja tapi ada jg yang dengan cekatannya menutup infusku dan meminta tempat-tempat untuk mengeluarkan darah yang tersumbat..
ko' bisa sampai gini???sambil menyedot darah yang tersumbat, suster yang maniezt itu bertanya kepadaku...
dengan tersenyum pula aku jawab..ngga tau juga nih de'...kyaknya tanganku udah ngga sanggup, udah terlalu bengkak jadi darahnya tersumbat terus...apa ngga lebih baik dipindahkan di tangan kanan
hiks..hiks...tapi pasti sakit banget karena harus ditusuk lagi yang baru padahal tanganku udah bengka-bengkak semua karena suntikan
suster itu pun tersenyum sambil menjawab "dikompres aja dulu ini yang bengkak, susah juga kalau mau dipindahkan karena urat nadinya kecil banget jadi harus berkali-kali ditusuk baru bisa dapat.
kasian juga sama kk kesakitan terus setiap harinya. 
Akhirnya infusnya selesai dibersihkan dari darah yang tersumbat...pedisnya ngga terasa karena sambil cerita sama suster yang maniezt...he..he..
ingat tangannya dikompres dengan air hangat ya supaya bengkaknya berkurang dan aliran darahnya bisa lancar kembali, tangannya yang diinfus jangan digunakan bertumpu kalau mau bangun karena itu yang bikin darahnya tersumbat.
Truz satu lagi kalau ke kamar mandi ingat infusnya ditutup dulu...pesan suster sebelum keluar dari ruanganku sambil tersenyum.

Mama tolong ambilkan air panas sebentar ya untuk kompres tanganku, udah sakit banget bengkaknya nih...ucapku sama mama yang masih bengong dengan kejadian tadi
iya sayang sebentar ya kalau rahma udah datang karena mama ngga tau tempat air panas disebelah mana, jawabnya dengan nada khawatir
iya ngga pa-pa tungguin rahma saja, jangan kwatir seperti itu. Anti ngga pa-pa mamaku sayang, kucoba untuk menenangkan hati mama dengan mengajaknya bercanda. 
Aku tahu mama adalah orang yang paling merasakan beratnya beban pikiran selama aku di Rumah Sakit ini. nalurinya sebagai seorang ibu selalu membuatnya khawatir dan berpikir macam-macam saat aku mengalami kejadiaan-kejadian yang menegangkan

Terdengar ketukan pintu yang keras, mama dengan tergesa-gesa membuka pintu...
Selamat pagi...gimana hari ini???udah bisa bangun jalan2 kan..banyak bergerak ya supaya jahitannya cepat kering, kata dokter yang masuk keruanganku
iya dok setiap saat berlatih bangun dan jalan, ucapku
gimana kencingnya udah lancar???banyak minum supaya lancar dan ngga kental seperti ini kata dokter sambil melihat kantung keteterku dibawah tempat tidur.
udah BAB???tanyanya lagi...belum dok, belum ada perasaan sediktpun...
iya sebentar dimasukin lagi dulcolaxnya ya 2 biji...aku resepkan 2 sekalian...sambil mencatat resep di lembar observasi di statusku.
obatnya hari ini 8 biji...selanya lagi sambil teruz menulis
banyak banget dok...dikurangi yang ngga terlalu penting dok, aku udah mulai mual minum obat yang kemarin 5 biji, apalagi kalau dosisnya ditambah lagi...pintaku dengan sedikt memelas
iya deh aku kurangi 2 jadi 6 biji jadi totalnya sehari 18 biji...udah ngga ada yang bisa dikurangi, fix sambil tersenyum ke arahku. 
Aku tak dikasi kesempatan untuk nawar lagi..he..he...iya deh ucapku pasrah.

Jahitannya aku periksa dulu, ucapnya sambil membuka gurita yang aku pakai. 
ahhhh hati-hati dok, sakit banget...teriakku saat tangannya menyentuh perutku
masih basah, rajin-rajin goyang supaya cepat kering lukanya..sambil menutup perutku kembali.

Akhirnya setelah pemeriksaannya selesai, dokter berlalu meninggalkan ruanganku menuju ruangan pasien lain untuk melanjutkan tugasnya.
Pikiranku terbawa ke beberapa tahun silam waktu SMP ketika aku bercita-cita ingin jadi dokter karena tugasnya yang mulia, membantu orang-orang sembuh dari sakitnya.
Keinginan yang harus aku pendam karena keterbatasan ekonomi keluargaku. Suatu saat akan menebusnya dengan menjadikan anakku seorang dokter, gumamku dalam hati sambil tersenyum dengan penuh harapan.
Pagi ini kuhabiskan waktuku dengan mengkhayal tentang masa depanku meski aku sendiri belum yakin apakah aku bisa menatap hari esok dengan kondisiku yang masih terbaring lemah seperti ini tapi aku punya semngat yang tinggi untuk sembuh
Dan itu adalah sebuah modal untuk kesembuhanku.
Khayalan tentang masa depan membuatku tertidur pulas hingga siang hari. aku dibangungkan suara-suara 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar