1 hari menjelang operasiku… aku tak tahu seperti apa mengungkapkan perasaanku saat ini. Rasa khawatir, takut, trauma, gelisah, dan sejuta perasaan tak enak lainnya. Andai aku bisa memilih dalam hidup ini, aku tak ingin penyakit ini menggerogoti diriku. Aku tak ingin merasakan seramnya operasi lagi, cukup sekali aku merasakannya 4 tahun yang lalu. Yup…ini kali ke-2 aku divonis dokter menderita penyakit tumor, yang pertama tahun 2006 aku divonis tumor payudara dan harus segera diangkat sebelum berubah menjadi ganas. Sekarang aku harus divonis lagi tumor ovarium (indung telur). Bayangan seramnya operasi mulai berkelebat di bayanganku namun aku tak punya pilihan lain, daging itu sudah berukuran 14,9 x 9 cm dalam perutku. Tak bisa dibayangkan kalau harus menunda operasi dan mencari pengobatan alternative yang lain, tentu saja membutuhkan waktu yang lama dan resiko akan semakin besar. Hufft…..memang semuanya serba menyulitkanku. Aku diharuskan membuat keputusan tepat dan secepat mungkin karena penyakit ini tak mungkin menunggu.
Manusia hanya bisa membuat perencanaan dalam kehidupannya tapi Allah yang menjadi penentu segalanya. Awal tahun, aku pernah membuat planning kehidupanku tahun ini yang penuh dengan rutinitas kuliah dan kerja serta target yang harus terpenuhi tapi siapa sangka kalau Allah mempunyai rencana lain buat hidupku. Semua rencana itu menjadi kabur saat mendengar vonis dokter tgl 17 Juni lalu…Tumor ovarium, sangat menyeramkan tentunya untuk wanita muda seperti diriku. Aku divonis terancam sulit memiliki keturunan bahkan kemungkinan terburuk tidak memiliki keturunan. Tak ada jalan lain selain pasrah menerima takdir yang digariskan serta berusaha untuk memutuskan yang terbaik. Ini harus dihadapi dan tak ada guna untuk menyesali dan menyalahkan Tuhan dengan yang terjadi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar